Banner baru.jpg

Empat Anak Binaan Basuh Kaki Orang Tua, Hari Anak Nasional di LPKA Jadi Ruang Maaf

Empat anak binaan membasuh kaki orangtuanya dan sungkem, pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Pangkalpinang, Kamis (23/7/2026). (Foto: titikinfo)
banner 120x600

PANGKALPINANG, TITIK INFO — Tak banyak yang menyangka peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Pangkalpinang, Kamis (23/7/2026), akan berakhir dengan suasana penuh air mata.

Tangis pecah saat empat anak binaan satu per satu menghampiri orang tua mereka, bersimpuh, membasuh kaki ayah dan ibu, lalu mengeringkannya dengan handuk. Beberapa orang tua tak mampu lagi menahan haru dan langsung memeluk anak-anak mereka.

Sejumlah tamu undangan, petugas, hingga keluarga anak binaan tampak mengusap air mata. Status sebagai anak binaan, anak-anak ini sedang belajar mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada orang yang paling mereka cintai.

Momen tersebut menjadi bagian paling menyentuh dalam peringatan Hari Anak Nasional di LPKA Pangkalpinang tahun ini. Peringatan HAN tak berhenti pada suasana haru. LPKA juga menunjukkan bahwa pembinaan dijalankan melalui berbagai cara, mulai dari pendidikan karakter, literasi, hingga pemberian penghargaan bagi anak binaan yang menunjukkan perubahan.

Salah satunya melalui peluncuran buku “Budak Bepantun”, karya yang lahir dari pembinaan literasi di dalam LPKA. Buku tersebut diserahkan secara simbolis kepada Bunda Literasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Noni Hidayat Arsani, Wakil Wali Kota Pangkalpinang Dessy Ayutrisna, dan Kepala Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung.

Pada kesempatan yang sama, sejumlah anak binaan juga menerima remisi karena dinilai memenuhi persyaratan dan menunjukkan perilaku baik selama menjalani pembinaan.

Bunda Literasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Noni Hidayat Arsani, mengaku prosesi sungkeman menjadi momen yang paling membekas baginya.

“Kita dibuat terharu oleh anak-anak di LPKA. Kami datang ke sini sebagai bentuk perhatian dan dukungan kepada mereka yang sedang menjalani sekolah kehidupan di tempat ini,” katanya.

Menurut Noni, anak-anak yang sedang menjalani pembinaan tetap membutuhkan dukungan agar tidak kehilangan semangat untuk memperbaiki masa depan.

“Semoga setelah keluar dari sini mereka bisa kembali melanjutkan pendidikan dan mengejar impian mereka,” ujarnya. (ti1)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *