PANGKALPINANG, TITIKINFO — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah II mengeluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis yang berlaku pada dasarian II September 2026, periode 11–20 September 2026.
Dalam pemutakhiran per 10 September 2026, sejumlah wilayah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) masuk dalam kategori Siaga hingga Awas terhadap potensi kekeringan meteorologis.
Berdasarkan informasi yang disampaikan BMKG Wilayah II melalui akun Instagram resminya, Bangka Barat dan Pangkalpinang berada dalam kategori Siaga.
Sementara itu, enam wilayah lainnya masuk kategori Awas, yakni Bangka, Bangka Tengah, Bangka Selatan, Belitung, dan Belitung Timur.
Kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar wilayah Babel perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak minimnya curah hujan yang dapat berlangsung dalam periode tertentu.
Kekeringan meteorologis pada dasarnya berkaitan dengan kondisi curah hujan yang berada di bawah normal dalam periode tertentu. Kondisi ini dapat berdampak terhadap ketersediaan air, sektor pertanian, perkebunan hingga meningkatnya potensi kebakaran lahan apabila disertai kondisi lingkungan yang kering.
Dalam peta peringatan dini BMKG Wilayah II, sejumlah wilayah di Sumatera bagian selatan hingga Jawa juga tercatat mengalami kondisi serupa dengan tingkatan yang berbeda.
Untuk wilayah Babel, status Awas menjadi perhatian utama karena mencakup sebagian besar wilayah kabupaten/kota.
Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah berstatus Awas dan Siaga, diimbau lebih bijak dalam penggunaan air serta mewaspadai aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan dan hutan.
Peringatan dini ini berlaku 11–20 September 2026 dan dapat diperbarui sesuai perkembangan kondisi cuaca dan iklim.
Daftar status Babel, status siaga Bangka Barat dan Pangkalpinang, status awas: Bangka, Bangka Tengah, Bangka Selatan, Belitung, dan Belitung Timur.
BMKG mengingatkan bahwa informasi peringatan dini menjadi penting sebagai langkah antisipasi agar masyarakat dan pemangku kepentingan dapat mengambil tindakan lebih awal menghadapi potensi dampak kekeringan.
Salah satu warga di Bangka Barat, Ani, mengaku sudah beberapa kali membeli air untuk kebutuhan sehari-hari, lantaran sumur di rumahnya sudah mengering.
“Terpaksa beli untuk keburu sehari-hari, karena air sumur tidak bisa lagi diambil,” terangnya.
Ia berharap hujan segera turun dan mengisi ketersediaan air sumur. (ti1)










