Kekeringan Meluas di Pangkalpinang, Warga Berburu Air Bersih

Masyarakat antre mendapatkan air bersih di salah satu perumahan di Air Itam Pangkalpinang.
banner 120x600

PANGKALPINANG, TITIKINFO.ID — Kekeringan yang melanda Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, semakin dirasakan masyarakat. Menipisnya persediaan air di sejumlah sumber membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, mencuci, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

Warga terpaksa mencari sumber air alternatif. Sebagian mengangkut air dari kolong atau sungai, sementara warga lainnya mengandalkan sumur yang masih memiliki persediaan air.

Kondisi ini juga dirasakan masyarakat di Kelurahan Temberan, Kecamatan Bukit Intan. Warga yang mengalami kesulitan air bersih mendatangi kantor kelurahan untuk mengambil air dari sumur bor yang masih dapat dimanfaatkan.

Upaya ini menjadi salah satu cara warga bertahan di tengah semakin terbatasnya ketersediaan air. Masyarakat harus mencari sumber air yang masih tersedia agar kebutuhan dasar keluarga tetap terpenuhi.

Kekeringan tidak hanya berdampak pada sumber air yang digunakan masyarakat secara mandiri. Kondisi serupa juga terjadi pada kolong yang menjadi sumber air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Menyusutnya ketersediaan air di sumber tersebut menyebabkan pasokan air kepada pelanggan terganggu. Akibatnya, pelanggan PDAM turut mengalami kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Situasi ini memperlihatkan bahwa dampak musim kemarau tidak hanya dirasakan warga yang mengandalkan sumur rumah tangga, tetapi juga masyarakat yang selama ini bergantung pada layanan air perpipaan.

Kekeringan yang semula banyak dikeluhkan di wilayah Bukit Intan kini dilaporkan semakin meluas. Sejumlah wilayah di kecamatan lain di Pangkalpinang juga mengalami kondisi serupa, sehingga persoalan ketersediaan air bersih semakin menjadi perhatian masyarakat.

Ketika sumber air mulai menyusut dan pasokan tidak lagi berjalan normal, warga harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan harian. Kondisi tersebut juga meningkatkan pentingnya penyaluran air bersih bagi masyarakat yang terdampak.

“Beruntung di Kantor Kelurahan ada air bersih, jadi kami mengangkut air dari situ satu bulan terakhir,” ujar Ria, warga Kelurahan Temberan, Bukit Intan.

Selain itu, di Kelurahan Air Itam, warga juga kerap mengambil air di depan Karen Chicken, terkadang ada mobil yang sengaja standby membagikan air.

BMKG: Hujan Berpeluang Turun, tetapi Sebarannya Belum Merata

Di tengah meluasnya kekeringan, masyarakat masih harus menghadapi kondisi cuaca yang relatif kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prakiraan cuaca periode 23–29 Oktober 2026 menyebutkan bahwa hujan masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kepulauan Bangka Belitung.

Namun, potensi hujan tersebut tidak tersebar merata. Dalam prakiraan untuk periode 26–29 Oktober, BMKG masih mengingatkan adanya kondisi kering di sejumlah wilayah, meskipun hujan dengan intensitas sedang berpeluang terjadi di beberapa daerah.

BMKG juga memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia pada dasarian III Oktober hingga dasarian II November 2026 berpotensi mengalami curah hujan rendah hingga menengah.

Sementara itu, prediksi curah hujan bulanan BMKG untuk Oktober 2026 memasukkan Kota Pangkalpinang dan sejumlah kabupaten di Kepulauan Bangka Belitung ke dalam wilayah yang diprakirakan didominasi curah hujan kategori rendah, yakni 0–100 milimeter per bulan.

Hal ini menunjukkan bahwa peluang hujan dalam beberapa hari ke depan belum tentu cukup untuk segera memulihkan sumber air yang telah menyusut akibat kemarau panjang.

“Sudah mulai hujan, tapi air tetap belum mengalir,” keluh warga. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *