Harga Ayam di Babel Tembus Rp49 Ribu, Ternyata Ini Penyebabnya

Pedagang ayam di pasar saat sedang menyiapkan ayam pesanan pembeli. Harga ayam melonjak naik beberapa pekan terakhir.
banner 120x600

PANGKALPINANG, TITIKINFO — Harga daging ayam ras di Kepulauan Bangka Belitung kembali naik. Pada September 2026, rata-rata harganya mencapai Rp49.354 per kilogram, melonjak 13,04 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka Rp43.661.

Kenaikan ini bukan hanya soal harga jual di pasar. Sejumlah faktor dari sisi pasokan hingga meningkatnya kebutuhan masyarakat ikut mendorong harga ayam ras naik dalam beberapa pekan terakhir.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S Tamawiwy, mengatakan salah satu pemicunya adalah harga ikan laut yang ikut tinggi akibat keterbatasan stok yang dipengaruhi cuaca ekstrem.

Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat beralih memilih ayam sebagai sumber protein hewani.

“Kondisi ini mengakibatkan masyarakat beralih ke daging ayam ras dalam rangka pemenuhan kebutuhan protein,” jelas Rommy dalam keterangan persnya, Kamis (17/9/2026).

Di saat permintaan meningkat, pasokan ayam juga menghadapi tekanan. Rommy menyebut adanya gangguan produksi yang berdampak terhadap ketersediaan ayam di pasaran.

Kebutuhan ayam ras juga bertambah seiring meningkatnya kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Belum lagi, sejumlah acara keagamaan yang waktunya berdekatan ikut meningkatkan kebutuhan daging ayam ras.

Dari sisi perdagangan, pelaku usaha juga cenderung mempertahankan margin keuntungan ketika harga pembelian meningkat. Kondisi tersebut turut memberi tekanan terhadap harga yang diterima konsumen.

Akibat berbagai faktor itu, harga ayam ras di Babel kini berada 23,39 persen di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas), yakni Rp40.000 per kilogram.

Kenaikan harga ayam juga menjadi salah satu penyumbang inflasi Babel. Sebelumnya, BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 3,94 persen secara tahunan (yoy).

Melihat harga ayam yang terus bergerak naik, Bank Indonesia meminta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tidak hanya melakukan pengawasan di pasar, tetapi menelusuri persoalan dari sisi hulu.

“Untuk itu saya meminta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat langkah pengendalian harga daging ayam ras menyusul kenaikan harga komoditas tersebut sebesar 13,04 persen pada September 2026 dibandingkan bulan sebelumnya,” ujar Rommy.

TPID bersama Tim Satgas Pangan didorong melakukan inspeksi ke kandang Day Old Chick (DOC), peternak ayam ras mandiri maupun kemitraan berskala besar.

Langkah ini untuk melihat secara langsung kondisi produksi dan memastikan apakah terdapat persoalan yang mengganggu pasokan, termasuk kemungkinan penyakit atau wabah.

“Pemeriksaan dari sisi hulu diperlukan untuk memastikan kendala riil di lapangan, termasuk gangguan akibat penyakit atau wabah,” katanya.

Pengawasan juga akan diarahkan pada rantai distribusi ayam dari produsen hingga konsumen. TPID dan Satgas Pangan diminta memantau harga, mendeteksi potensi spekulasi pedagang, serta memeriksa distributor untuk memastikan tidak ada penimbunan ayam segar maupun beku.

Pasokan dari luar daerah juga menjadi perhatian. TPID diminta memperkuat koordinasi dengan produsen dan instansi terkait untuk mencari solusi atas persoalan pasokan sekaligus mendorong peningkatan produksi ayam lokal di Bangka Belitung.

Untuk kebutuhan ayam bagi SPPG, TPID juga dapat berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk mencari sumber protein hewani alternatif agar kebutuhan tidak seluruhnya bertumpu pada ayam ras. (ti1/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *