Kelas Barista Disnaker Pangkalpinang Pernah Lahirkan Pelaku Industri Kopi

* Pelatihan Barista kerja sama dengan UPT Kemnaker RI.

Peserta pelatihan barista Disnaker Pangkalpinang sedang berlatih membuat kopi. (Foto: ist)
banner 120x600

Besarnya antusiasme masyarakat juga terlihat dari jumlah pendaftar yang selalu melampaui kuota pada program ketiga tahun 2026.

PANGKALPINANG, TITIKINFO – Coffee shop di Kota Pangkalpinang dua tahun terkahir tumbuh pesat, hampir di setiap sudut kota bermunculan coffee shop baru yang menjadi tongkrongan seru.

Tapi siapa sangka, barista yang kini bekerja di coffee shop ini awalnya adalah peserta kelas pelatihan barista yang digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Pangkalpinang.

Program ini bahkan disebut menjadi salah satu pemicu tumbuhnya industri coffee shop di Pangkalpinang setelah sejumlah alumninya terjun langsung ke dunia usaha maupun bekerja sebagai barista profesional.

Kepala Disnaker Kota Pangkalpinang, Amrah Sakti, mengatakan pelatihan barista pertama kali digelar pada 2023. Hasilnya di luar dugaan. Sejumlah lulusan pelatihan ikut mewarnai perkembangan bisnis kopi di Kota Pangkalpinang.

“Dasar itulah yang membuat kami terus melaksanakan pelatihan barista. Kami melihat minat masyarakat untuk mempelajari pengolahan kopi sangat tinggi,” ujarnya, Rabu (29/7/2026).

Besarnya antusiasme masyarakat juga terlihat dari jumlah pendaftar yang selalu melampaui kuota pada program ketiga tahun 2026. Akibatnya, Disnaker harus melakukan proses seleksi untuk menentukan peserta yang berhak mengikuti pelatihan.

Pelatihan barista bagi 16 peserta ini digelar selama lima hari, Senin hingga Jumat. Seluruh pembiayaan program ini ditanggung Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Belitung, Unit Pelaksana Teknis Kementerian Ketenagakerjaan RI.

“Pelatihan barista yang berlangsung saat ini diperuntukkan bagi masyarakat umum. Namun, ada juga satu peserta penyandang disabilitas yang ikut bergabung, sehingga total pesertanya tetap 16 orang sesuai kapasitas satu kelas pelatihan,” kata Amrah.

Selama pelatihan, peserta tidak hanya belajar membuat secangkir kopi yang nikmat. Mereka juga dibekali kemampuan melayani pelanggan, memahami standar profesi barista, hingga mengoperasikan mesin espresso.

Salah satu peserta, Suryo (18), mengaku mendapat banyak pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah dipelajari.

“Selama pelatihan kami belajar mulai dari dasar-dasar penyajian, pelayanan kepada customer, mengenal rasio kopi, teknik brewing, menggunakan mesin espresso, membuat americano hingga latte. Jadi bukan hanya praktik membuat kopi, tetapi juga bagaimana memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan,” bebernya.

Ia berharap bekal yang diperoleh selama pelatihan bisa menjadi tiket untuk memasuki dunia kerja. (ti1)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *