Kacang Panjang dan Daging Ayam Melonjak, Harga Pangan Dorong Inflasi Babel

* Biaya Hidup Masyarakat Makin Tertekan

Kacang panjang dan daging ayam menjadi salah satu komoditas yang kenaikannya paling mencolok sepanjang Agustus 2026. (Foto: ti1)
banner 120x600

Kelompok pengeluaran, makanan, minuman dan tembakau menjadi sumber tekanan inflasi terbesar. Kelompok ini mengalami inflasi tahunan sebesar 6,26 persen dan memberikan andil paling besar terhadap inflasi Babel, yakni 2,31 persen.

 

PANGKALPINANG, TITIKINFO — Harga sejumlah bahan pangan kembali naik di Bangka Belitung. Kacang panjang menjadi salah satu komoditas yang kenaikannya paling mencolok sepanjang Agustus 2026, dengan lonjakan harga mencapai 62,10 persen.

Kenaikan tersebut ikut mendorong inflasi Bangka Belitung pada Agustus 2026 yang tercatat sebesar 0,81 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sugeng Arianto, mengatakan inflasi Agustus terutama dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.

“Inflasi Agustus terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas Daging Ayam Ras, Kacang Panjang, dan Ikan Bulat. Ketiga komoditas tersebut memberikan andil terbesar terhadap inflasi pada bulan ini,” ujar Sugeng dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS Babel, Selasa (1/9/2026).

Daging ayam ras mengalami kenaikan harga 19,01 persen dan memberikan andil terbesar terhadap inflasi, yakni 0,44 persen.

Sementara kacang panjang mengalami kenaikan harga paling tinggi, mencapai 62,10 persen, dengan andil inflasi 0,09 persen. Adapun ikan bulat naik 14,78 persen dengan andil 0,06 persen.

Ketiga komoditas tersebut masuk dalam kelompok makanan, minuman dan tembakau, yang menjadi kelompok utama penyumbang inflasi pada Agustus.

Jika dilihat secara tahunan, inflasi Babel mencapai 3,94 persen, meningkat dibandingkan Juli yang sebesar 2,62 persen.
Inflasi tahunan tertinggi terjadi di Bangka Barat sebesar 4,43 persen, sedangkan terendah berada di Belitung Timur sebesar 3,27 persen.

Selain pangan, kelompok transportasi juga memberikan tekanan cukup besar. Secara tahunan kelompok ini mengalami inflasi 4,61 persen, dengan andil 0,56 persen terhadap inflasi Babel.

“Angkutan udara menjadi salah satu penyumbang utama dengan andil 0,20 persen, disusul bensin sebesar 0,15 persen dan sepeda motor 0,06 persen,” kata Sugeng.

Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 5,94 persen dan memberikan andil 0,37 persen. Salah satu komoditas yang dominan adalah emas perhiasan, dengan andil inflasi sebesar 0,31 persen.

 

Kenaikan harga juga terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,90 persen, dengan andil 0,26 persen. Nasi dengan lauk menjadi komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi pada kelompok tersebut.

 

Tekanan harga terjadi di seluruh wilayah cakupan IHK di Babel. Kabupaten Bangka Barat mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 4,43 persen, disusul Kota Pangkal Pinang 4,11 persen, Tanjung Pandan 3,53 persen dan Kabupaten Belitung Timur 3,27 persen.

Bangka Barat juga mencatat inflasi bulanan tertinggi, yakni 0,95 persen. Komoditas yang dominan mendorong kenaikan di wilayah tersebut adalah daging ayam ras, kacang panjang dan ikan selar.

Sebaliknya, Belitung Timur menjadi wilayah dengan inflasi tahunan terendah, meski tetap berada di level 3,27 persen. Di wilayah ini, cumi-cumi, emas perhiasan dan ikan kembung menjadi beberapa komoditas yang dominan memberikan andil inflasi.

Sugeng menambahkan, tidak semua kelompok mengalami inflasi. Kelompok pendidikan justru mengalami deflasi 3,24 persen secara tahunan dan memberikan andil deflasi sebesar 0,09 persen.

Penurunan tersebut terutama berasal dari pendidikan dasar dan anak usia dini yang turun 4,52 persen serta pendidikan menengah yang turun 14,07 persen.  (ti1/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *