BANGKA, TITIKINFO — Daun tanaman cabai yang semula keriting dan sulit tumbuh kembali disebut mulai menumbuhkan tunas dan akar baru setelah mendapatkan pupuk berbahan Fly Ash and Bottom Ash (FABA), residu pembakaran batu bara dari PLTU.
Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya mengatakan, pemanfaatan FABA mulai dikembangkan Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (FORMAP) bersama bahan organik menjadi pupuk yang telah dimanfaatkan untuk tanaman dan diproduksi secara rutin.
FABA sudah diproduksi selama 5 tahun dan terbukti mampu meningkatkan hasil pertanian hingga 20 persen. FORMAP sebagai pelaksana telah memproduksi pupuk tersebut dengan kapasitas rata-rata sekitar 16 ton per hari.
FABA dapat diolah dan memberikan manfaat, residu tersebut justru bisa menjadi bagian dari solusi untuk persoalan pangan dan lingkungan.
Bambang juga menyebutkan bahwa berdasarkan testimoni yang diterima, penggunaan pupuk tersebut menunjukkan hasil positif pada tanaman.
Bahkan, terdapat tanaman yang mengalami peningkatan hasil produksi setelah menggunakan pupuk berbahan FABA.
“Dari testimoni yang ada, kami pikir ini barang yang bagus untuk kita kembangkan. Kami mendorong PLN di PLTU tempat lain, baik di Kalimantan, Sumatera maupun Jawa, agar FABA ini dapat diberdayakan untuk mendukung ketahanan pangan,” kata Bambang yang akrab disapa BPJ.
Ia menilai pemanfaatan FABA dan sampah organik tersebut tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular bagi masyarakat.
Karena itu, Bambang berharap program tersebut dapat dikembangkan menjadi model yang lebih luas secara nasional, dengan dukungan PLN serta standardisasi produk sehingga pemanfaatan FABA menjadi pupuk dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.
Pengembangan produk tersebut masih membutuhkan standardisasi agar kualitasnya semakin terjamin dan dapat digunakan secara lebih luas.
Untuk pengembangan lebih lanjut, Bambang mendorong agar produk tersebut dimodifikasi menjadi bentuk granul agar mudah diaplikasikan dan bisa diproduksi massal.
Ketua Umum FORMAP Bangka Belitung Muhammad Syarif Hidayatullah menjelaskan, pupuk yang mereka kembangkan menggunakan 24 jenis bioenzim yang bersumber dari limbah pasar, limbah masyarakat hingga unsur laut khas Bangka Belitung.
Bioenzim tersebut kemudian diolah dan diaplikasikan pada FABA untuk mengaktifkan unsur hara sebelum digunakan pada tanaman.
“Bioenzim ini kami aktifkan selama dua jam, kemudian diaplikasikan ke fly ash untuk mengaktifkan unsur hara makronya. Dua jam kemudian boleh langsung diaplikasikan ke tanaman untuk mempercepat produktivitas,” jelas Syarif. (ti1)










