Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau mulai terasa hingga Bangka Belitung. Bandara Depati Amir mengumumkan adanya penyesuaian sejumlah jadwal penerbangan, sementara pantauan FlightRadar24 pada Minggu pagi menunjukkan tidak terlihatnya pesawat di sekitar jalur Jakarta Bangka Belitung saat tangkapan dilakukan.
PANGKALPINANG, TITIKINFO.ID — Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi dalam beberapa hari terakhir mulai berdampak terhadap aktivitas penerbangan, termasuk di Bandara Depati Amir, Pangkalpinang.
Pihak Bandara Depati Amir melalui akun Instagram resminya menyampaikan adanya penyesuaian sejumlah jadwal penerbangan menyusul meningkatnya aktivitas erupsi Anak Krakatau yang berdampak terhadap operasional penerbangan.
“Sehubungan dengan meningkatnya aktivitas Erupsi Anak Gunung Krakatau yang berdampak pada operasional penerbangan, sejumlah jadwal penerbangan di Bandara Depati Amir mengalami penyesuaian,” demikian informasi yang disampaikan pengelola bandara, Minggu (6/9/2026).
Pengelola Bandara Depati Amir mengimbau calon penumpang untuk kembali mengecek status dan jadwal penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum melakukan perjalanan.
Untuk informasi kebandarudaraan, pengguna jasa juga dapat menghubungi Contact Center InJourney Airports 172.
Penyesuaian jadwal penerbangan di Depati Amir menjadi bagian dari dampak erupsi Anak Krakatau yang turut memengaruhi aktivitas penerbangan nasional.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya dua klaster sebaran abu vulkanik yang pada Minggu (6/9/2026) terpantau melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan hingga Samudra Hindia.
Dampak erupsi juga dirasakan pada sejumlah bandara. BMKG menyebut berdasarkan NOTAM yang diterbitkan AirNav Indonesia, terdapat penutupan sementara operasional di beberapa bandar udara, termasuk Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II dan Budiarto pada waktu yang berbeda. Kondisi operasional penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik dan aspek keselamatan penerbangan.
Di Bandara Soekarno-Hatta, sebanyak 209 penerbangan sempat terdampak akibat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau. Gangguan tersebut turut memengaruhi penerbangan domestik maupun internasional.
Sementara itu, untuk pengguna jasa Bandara Depati Amir, pengelola mengingatkan agar tidak hanya mengandalkan jadwal penerbangan yang sebelumnya telah dimiliki, tetapi memastikan kembali status penerbangan kepada maskapai sebelum berangkat ke bandara. (ti1/net)










