PANGKALPINANG, TITIKINFO.ID – Setelah mengalami kenaikan harga pada September, sejumlah bahan pangan di Bangka Belitung mulai mengalami penurunan pada Oktober 2026. Harga daging ayam ras, ikan kerisi, hingga ikan selar menjadi komoditas yang paling besar mendorong terjadinya deflasi di daerah ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat deflasi sebesar 0,41 persen pada Oktober 2026 secara bulanan (month-to-month). Kondisi ini berbalik dibandingkan September 2026 yang justru mengalami inflasi sebesar 0,81 persen.
Ketua Tim Statistik Harga BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Desiana Arbani Safari, menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi pada Oktober.
Salah satu penurunan paling besar terjadi pada harga daging ayam ras yang mengalami deflasi 10,79 persen, dengan andil terhadap deflasi sebesar 0,31 persen.
Penurunan juga terjadi pada ikan kerisi sebesar 17,66 persen. Padahal, pada September lalu komoditas ini sempat mengalami kenaikan harga atau inflasi 9,07 persen.
Sementara itu, harga ikan selar turun 11,51 persen dengan andil deflasi sebesar 0,07 persen.
“Deflasi Oktober terutama didorong komoditas daging ayam ras, ikan kerisi, dan ikan selar. Ketiganya memberi andil terbesar terhadap penurunan harga bulan ini,” ujar Desiana dalam rilis Berita Resmi Statistik BPS Babel, Senin (2/11/2026).
Meski demikian, deflasi bukan berarti seluruh harga barang di pasaran mengalami penurunan. Angka tersebut menunjukkan secara rata-rata harga barang dan jasa yang dihitung dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Inflasi Tahunan Masih 3,36 Persen
Di tengah penurunan harga secara bulanan, masyarakat masih menghadapi kenaikan harga jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
BPS mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Bangka Belitung pada Oktober 2026 sebesar 3,36 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan September 2026 yang mencapai 4,30 persen.
Kenaikan harga secara tahunan terutama dipengaruhi komoditas beras, cabai rawit, dan angkutan udara.
Artinya, meskipun sejumlah bahan pangan mengalami penurunan harga dalam sebulan terakhir, tekanan harga masih terjadi jika dibandingkan dengan kondisi setahun sebelumnya.
Dari empat wilayah yang menjadi pantauan Indeks Harga Konsumen (IHK), hampir seluruhnya mengalami deflasi secara bulanan. Pengecualian terjadi di Kabupaten Bangka Barat yang justru mencatat inflasi 0,33 persen.
Sementara deflasi terdalam terjadi di Kota Tanjung Pandan sebesar 1,31 persen. (*/)










