Gurihnya Cempedak Goreng Khas Babel, Namanya Unik, Ditambah Wijen Makin Menggoda

Jemput cempedak dengan kopi susu hangat paling cocok dinikmati saat pagi atau sore. (Foto: ti1)
banner 120x600

Di tengah semakin banyaknya kuliner modern, jemput cempedak mengingatkan bahwa makanan yang sederhana pun bisa menyimpan cerita. Ada buah lokal, kebiasaan masyarakat, istilah khas Melayu dan kreativitas dapur rumahan yang bertemu dalam satu gorengan.

 

PANGKALPINANG, TITIKINFO – Begitu keluar dari minyak panas, aromanya langsung menggoda. Harum khas cempedak matang berpadu dengan wangi adonan tepung yang mulai kecokelatan. Apalagi ada tambahan wijen yang membuat aromanya semakin semerbak.

Sekilas bentuknya sederhana. Hanya gorengan berwarna keemasan. Namun begitu digigit, bagian luarnya terasa renyah dan gurih, sementara daging cempedak di dalamnya tetap lembut, manis dan legit.

Masyarakat Bangka Belitung mengenal kudapan ini dengan nama jemput cempedak atau jumput cempedak.

Olahan tersebut menjadi salah satu cara sederhana masyarakat memanfaatkan cempedak ketika buah musiman ini mulai melimpah.

Kenapa Namanya Jemput?

Namanya mungkin membuat orang bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya “dijemput”?

Dalam tradisi kuliner Melayu, istilah jemput-jemput digunakan untuk jenis gorengan yang adonannya diambil sedikit demi sedikit sebelum dimasukkan ke dalam minyak panas.

Dalam konteks Bangka, sebutan tersebut kemudian melekat pada olahan cempedak yang digoreng. Sumber lokal tentang kuliner Bangka Belitung juga mencatat Jumput Cempedak sebagai gorengan manis berbentuk jumputan yang dibuat dari buah cempedak.

Jadi, jangan bayangkan cempedaknya sedang “dijemput”. Nama itu lebih berkaitan dengan cara mengambil atau membentuk adonan sebelum masuk ke penggorengan.

Manis Cempedak, Gurih Tepung, Harum Wijen

Menambahkan wijen pada gorengan cempedak ini menjadikan cita rasa lebih menggoda

 

Cempedak sebenarnya sudah memiliki karakter rasa dan aroma yang kuat. Buah yang matang memiliki aroma khas dan rasa manis yang membuatnya enak disantap langsung.

Namun ketika daging buahnya dibalut adonan tepung kemudian digoreng, karakter tersebut berubah menjadi kudapan yang lebih kompleks: renyah di luar, lembut dan manis di bagian dalam.

Masyarakat Bangka sendiri memiliki beragam cara menikmati cempedak. Selain dimakan langsung, buah ini juga diolah menjadi berbagai panganan, termasuk lempuk dan jumput cempedak.

Dan ketika jemput cempedak diberi sentuhan wijen, jajanan sederhana khas Babel ini punya satu alasan tambahan untuk kembali dicicipi.

“Wijen yang ikut menempel pada adonan akan menjadi kecokelatan ketika digoreng. Aromanya keluar bersama aroma cempedak, butiran kecilnya memberikan sensasi tekstur yang berbeda saat digigit, rasanya lebih istimewa, ala – ala resto,” ujar Asih, salah satu warga Pangkalpinang.

Manis, gurih, harum dan renyah. Cukup ditemani secangkir teh atau kopi hangat, jemput cempedak bisa berubah menjadi teman santai yang sulit ditolak.
“Satu potong mungkin terasa kurang. Dua potong mulai ketagihan. Dan sebelum sadar, piringnya sudah kosong,” ceritanya. (ti1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *