PANGKALPINANG, TITIK INFO– Laju inflasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berada dalam kisaran yang terkendali, tapi masyarakat yang setiap hari berbelanja kebutuhan pokok, tekanan kenaikan harga masih terasa nyata dan kiat menjerit.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) pada Juli 2026 mencapai 2,62 persen. Angka ini memang masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional, tetapi mencerminkan bahwa biaya hidup masyarakat terus meningkat dibandingkan setahun sebelumnya.
Inflasi di Bangka Belitung kali ini bukan dipicu barang mewah, melainkan komoditas yang setiap hari dikonsumsi masyarakat. Mulai dari berbagai jenis ikan, beras, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, bensin hingga makanan siap saji menjadi penyumbang utama kenaikan harga.
Kepala BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sugeng Arianto, menjelaskan inflasi terjadi karena meningkatnya harga pada sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat.
“Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami kenaikan 3,25 persen, sementara transportasi meningkat 4,29 persen. Bahkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik hingga 5,63 persen,” urainya.
Kondisi ini sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Ketika harga ikan naik, biaya makan keluarga ikut bertambah. Saat bensin lebih mahal, ongkos distribusi barang ikut meningkat. Dampaknya, harga berbagai kebutuhan lain juga perlahan ikut terdorong.
Fenomena tersebut terlihat jelas dalam beberapa pekan terakhir. Cuaca buruk disertai gelombang tinggi membuat hasil tangkapan nelayan menurun. Pasokan ikan ke pasar berkurang, sementara permintaan tetap tinggi.
“Akibatnya, harga ikan seperti kembung, tenggiri, cumi-cumi hingga udang mengalami kenaikan dan menjadi salah satu penyumbang terbesar inflasi di Babel,” katanya.
Selain bahan pangan, biaya transportasi juga memberi tekanan cukup besar. Kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara tidak hanya berdampak pada biaya perjalanan masyarakat, tetapi juga meningkatkan ongkos distribusi barang dari luar daerah menuju Bangka Belitung yang masih bergantung pada jalur laut dan udara.
BPS mencatat sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga, seperti bawang merah, cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras, jeruk, semangka hingga sawi hijau. Penurunan harga komoditas tersebut membantu menahan laju inflasi agar tidak meningkat lebih tinggi.
Kelompok pendidikan bahkan mengalami deflasi sebesar 4,79 persen secara tahunan, sehingga turut memberikan kontribusi dalam meredam kenaikan indeks harga konsumen.
Secara bulanan, Bangka Belitung mengalami inflasi sebesar 0,35 persen. Sementara sejak awal tahun hingga Juli 2026, inflasi tercatat sebesar 1,20 persen.
BPS juga mencatat adanya perbedaan tekanan harga di masing-masing daerah. Kabupaten Bangka Barat menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi, yakni 3,50 persen. Sebaliknya, Tanjung Pandan mencatat inflasi terendah sebesar 1,81 persen. (ti1)
.










