Kemarau Makin Panjang, BMKG Ungkap Dua Penyebab yang Terjadi

Perkembangan musim kemarau. (Foto: Instagram bmkg)
banner 120x600

 

PANGKALPINANG , TITIKINFO.ID — Kemarau 2026 berlangsung lebih panjang di banyak wilayah Indonesia. Penyebab utamanya bukan sekadar minimnya hujan, tetapi dipengaruhi dua fenomena iklim yang terjadi bersamaan, yakni El Nino dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Kondisi tersebut membuat pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia berkurang sehingga hujan lebih jarang turun dan musim kemarau berlangsung lebih lama.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat saat ini 556 Zona Musim (ZOM) atau 61,91 persen luas daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan indikator El Nino saat ini menunjukkan kondisi yang sangat kuat.

Pemantauan suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir Agustus 2026 tercatat +2,83 derajat, sementara indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) mencapai +2,63.

Angka tersebut menunjukkan El Nino berada pada kategori sangat kuat.

kombinasi kedua fenomena tersebut memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia.

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” kata Faisal, dikutip dari siaran pers BMKG.

Secara sederhana, El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik menghangat dari kondisi normalnya. Perubahan tersebut memengaruhi pola pergerakan udara dan pembentukan awan, termasuk di wilayah Indonesia.

Dampaknya, Indonesia cenderung mengalami lebih sedikit pertumbuhan awan hujan, terutama ketika pengaruh El Nino cukup kuat.

Pada saat yang sama, kondisi di Samudra Hindia juga turut memperkuat periode kering.

BMKG mencatat indeks IOD pada Agustus 2026 sebesar +0,376 dan masih berpeluang berada pada fase positif hingga akhir tahun.

Ketika IOD berada pada fase positif, pola sirkulasi atmosfer di sekitar Samudra Hindia dapat membuat pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia semakin berkurang.

Dengan kata lain, El Nino dan IOD positif bekerja pada waktu yang sama dan sama-sama mendorong kondisi yang lebih kering.

Direktur Perubahan Iklim BMKG A. Fachri Radjab menjelaskan, salah satu dampak El Niño yang terlihat saat ini adalah meluasnya kondisi kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.

Bahkan, sejumlah wilayah telah mengalami hari tanpa hujan selama lebih dari dua bulan. Data BMKG menunjukkan kondisi hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari tersebar di 25 provinsi.

Kondisi terpanjang tercatat di Bantul, dengan 131 hari tanpa hujan atau lebih dari empat bulan.

“Bahkan El Nino 2026 menyebabkan terjadinya periode kemarau pada beberapa ZOM dengan tipe hujan sepanjang tahun,” kata Fachri.

Kondisi tersebut tidak berhenti pada kemarau yang lebih panjang. BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 juga mengalami kemunduran di 529 ZOM atau 61,08 persen wilayah Indonesia.

Durasi musim hujan pun diperkirakan lebih pendek dari kondisi normal di 482 ZOM atau 51,90 persen luas daratan Indonesia.

Artinya, sebagian wilayah Indonesia menghadapi periode kering yang lebih panjang, sementara waktu untuk mendapatkan curah hujan yang cukup pada musim berikutnya juga menjadi lebih singkat. (*/ti1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *