Oktober 2026, Langit Punya Banyak Pertunjukan, Catat Tanggalnya!

Foto ilustrasi fenomena langit
banner 120x600

Dari Saturnus yang terang hingga hujan meteor Orionid, ini fenomena langit yang bisa dinikmati sepanjang Oktober

 

PANGKALPINANG, TITIKINFO. ID— Jangan buru-buru tutup hari setelah matahari tenggelam. Sepanjang Oktober 2026, langit malam menghadirkan sejumlah fenomena astronomi yang menarik untuk diamati.

Ada planet yang sedang berada pada posisi terbaik untuk diamati, pertemuan Bulan dengan beberapa planet, hingga hujan meteor yang berasal dari debu komet.

Berikut beberapa momen yang bisa masuk kalender pengamat langit.

4 Oktober — Saturnus tampil lebih terang

Awal Oktober dibuka dengan Saturnus mencapai oposisi pada 4 Oktober. Posisi ini terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Saturnus.

Akibatnya, Saturnus berada pada posisi yang sangat baik untuk diamati karena terbit sekitar waktu Matahari terbenam dan dapat terlihat hingga menjelang Matahari terbit.

Dengan teleskop, cincin Saturnus menjadi salah satu objek yang menarik untuk diamati.

5–6 Oktober — Bulan bertemu Mars dan Jupiter

Pada 5 Oktober, Bulan akan tampak berdekatan dengan Mars di langit menjelang fajar. Sehari berikutnya, giliran Jupiter yang berada dekat dengan Bulan.
Keduanya termasuk objek terang yang relatif mudah dikenali tanpa teleskop, meski waktu dan posisi pengamatan tetap bergantung pada lokasi.

12–13 Oktober — Bulan, Venus dan Merkurius

Pertengahan Oktober juga menghadirkan pertemuan menarik di langit sore.

Pada 12 Oktober, Bulan tampak dekat dengan Venus. Sementara kedekatan Bulan dan Merkurius berlangsung pada 13 Oktober.

Di wilayah Indonesia, pasangan tersebut dapat dicari di langit barat setelah Matahari terbenam, dengan kondisi horizon yang terbuka akan sangat membantu.

21–22 Oktober — Hujan Meteor Orionid

Ini salah satu yang paling menarik.
Hujan meteor Orionid mencapai puncaknya pada malam 21–22 Oktober.

Meteor-meteor ini merupakan serpihan yang ditinggalkan Komet Halley ketika mengorbit Matahari. Saat serpihan tersebut memasuki atmosfer Bumi, gesekan dengan atmosfer menghasilkan kilatan cahaya yang kita lihat sebagai meteor.

Orionid dapat diamati dari belahan Bumi utara maupun selatan. Pada kondisi ideal, kecepatannya dapat mencapai sekitar 20 meteor per jam, meski cahaya Bulan pada 2026 berpotensi membuat meteor yang lebih redup sulit terlihat.

Untuk berburu meteor, pilih lokasi yang minim polusi cahaya dan beri mata waktu beradaptasi dengan kondisi gelap.

24 Oktober — Bulan berdekatan dengan Saturnus

Setelah Saturnus tampil menonjol di awal bulan, Bulan kembali mendekatinya pada 24 Oktober.

Keduanya dapat terlihat di langit malam dan bisa diamati dengan mata telanjang. Jarak tampaknya sekitar 6 derajat, sehingga keduanya masih nyaman diamati dalam satu bidang pandang teropong.

26 Oktober — Hunter’s Moon

Oktober ditutup dengan Bulan Purnama pada 26 Oktober. Bulan purnama ini dikenal dengan nama Hunter’s Moon.Di wilayah Indonesia, fase purnama terjadi sekitar siang hari, sehingga Bulan akan tampak penuh pada malam sebelum dan sesudah waktu puncaknya.

27–28 Oktober — Bulan dan Pleiades

Menjelang akhir bulan, Bulan kembali berdekatan dengan Pleiades, gugus bintang yang juga dikenal sebagai Seven Sisters.

Gugus ini tampak seperti sekumpulan titik bintang yang berdekatan. Dalam kondisi langit gelap, Pleiades dapat menjadi salah satu objek menarik untuk diamati dengan mata telanjang maupun teropong.

Jadi, Oktober bukan cuma tentang hujan atau perubahan cuaca. Sesekali, coba tengadah. Ada banyak cerita yang sedang berlangsung jauh di atas sana. (net/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *