September Babel Bakal Hadapi Puncak Kemarau, Waspada Krisis Air

Ilustrasi kemarau
banner 120x600

Puncak musim kemarau 2026 umumnya diprediksi terjadi pada September, dengan seluruh wilayah Kepulauan Bangka Belitung memasuki periode puncak kemarau.

 

PANGKALPINANG, TITIKINFO — Bangka Belitung perlu mulai bersiap menghadapi puncak musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di wilayah Kepulauan Bangka Belitung terjadi pada September 2026, bertepatan dengan kondisi El Nino yang kini berada pada kategori kuat.

Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau terasa lebih kering dan meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah.

Berdasarkan informasi BMKG Babel, puncak musim kemarau 2026 umumnya diprediksi terjadi pada September, dengan seluruh wilayah Kepulauan Bangka Belitung memasuki periode puncak kemarau.

Sementara itu, pemantauan BMKG menunjukkan fenomena El Nino mulai aktif sejak Juni 2026 dan diperkirakan dapat berlangsung sekitar 9–12 bulan hingga Mei 2027.

BMKG mencatat indeks ENSO berada di angka +1,59, yang masuk kategori kuat dan masih berpotensi meningkat.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa meski curah hujan diprakirakan sangat rendah pada Agustus hingga September 2026, hujan diprediksi mulai memasuki wilayah Indonesia pada pertengahan Oktober 2026, yang akan secara berangsur melemahkan pengaruh El Nino terhadap curah hujan nasional. Fenomena El Nino ini diperkirakan berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan atau hingga Mei 2027.

Meski demikian, lamanya El Nino tidak serta-merta berarti Indonesia akan mengalami kemarau sepanjang periode tersebut. Ketika musim hujan mulai datang, dampak El Nino terhadap kondisi kering diperkirakan semakin berkurang.

Masyarakat diminta untuk mengantisipasi puncak musim kemarau, terutama menyangkut ketersediaan air bersih.

Curah hujan yang rendah dalam waktu cukup panjang dapat membuat sumber-sumber air mengalami penurunan debit. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga pertanian, perkebunan dan aktivitas masyarakat lainnya.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menunggu sampai sumber air mulai mengering untuk melakukan penghematan.

Penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari perlu dilakukan secara bijak. Masyarakat juga dapat memastikan tempat penampungan air dalam kondisi siap digunakan, terutama untuk menghadapi periode ketika hujan semakin jarang turun.

Prediksi BMKG menunjukkan September menjadi salah satu bulan penting yang perlu diwaspadai.

“Kondisi cuaca panas, rendahnya curah hujan dan pengaruh El Nino dapat membuat tanah dan vegetasi semakin kehilangan kelembapan,” ujarnya. (ti1)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *