Rumah Baru, Harapan Baru bagi Keluarga Berisiko Stunting

* Lima KRS di Babel Terima Bantuan RLH

Menteri Wihaji dan istri saat berkunjung ke kediaman Hasri dan Novita Sari di Desa Tanjung Gunung. Pembina DWP Kemendukbangga/BKKBN tampak mengendong bayi Novita Sari. Sementara Hasri, hanya bisa terbaring di atas tempat tidur.
banner 120x600

Menekan stunting, tidak bisa hanya diberikan makanan bergizi saja tetapi juga intervensi semua stakeholder yang berkolaborasi.

PANGKALPINANG, TITIKINFO — Tak pernah terlintas di benak Hasri dan istrinya, Novita Sari, bahwa rumah berdinding papan yang selama ini mereka tempati akan segera berganti menjadi rumah layak huni. Saat Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji bersama rombongan datang menjelang malam, Rabu (5/8/2026).

Pasangan itu tak kuasa menyembunyikan rasa haru. Di tengah perjuangan hidup, bantuan dari Kemendukbangga/BKKBN, Pemprov Bangka Belitung, BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Kantor Perwakilan BKKBN Babel menjadi harapan baru bagi keluarga kecil mereka.

Selama tujuh bulan terakhir, Hasri tidak lagi mampu bekerja setelah mengalami kecelakaan kerja yang menyebabkan lumpuh pada tulang panggul. Setiap pagi hingga siang, ia mengasuh bayi mereka yang berusia tujuh bulan di dalam ayunan, sementara sang istri bekerja sebagai petugas kebersihan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi ekonomi yang sulit membuat mereka tetap bertahan di rumah panggung berdinding dan berlantai papan yang tidak layak huni.

Anak pertama mereka masih sekolah di bangku SMP, sehingga tidak bisa menjaga sang adik di siang hari. Mau tak mau, bayi tujuh bulan itu diasuh ayahnya, ketika bayi menangis, sang ayah hanya mampu menggerak-gerakkan ayunan bayinya, ketika bayi BAB otomatis menunggu Novita pulang kerja baru membersihkan bayi tersebut.

Demikian juga dengan Asmid dan Pitrianti, warga Tanjung Gunung yang juga disambangi Menteri Wihaji. Rumah pasangan ini pun mendapat bantuan rumah layak huni dari BAZNAS Babel dan sejumlah bantuan lainnya, Menteri Wihaji bahkan berjanji membelikan sepeda untuk Puput, putri pasangan Asmid dan Pitrianti agar bisa ke sekolah.

Menteri Wihaji saat mendatangi kediaman Asmid dan Pitrianti di Tanjung Gunung.

Menteri Wihaji, tak kuasa menahan kesedihannya ketika ia dan istrinya Uni Kuslantasi Wihaji, melihat kondisi Hasri yang terbaring tak berdaya, Pembina DWP Kemendukbangga bahkan terlihat dak sungkan menggendong bayi Hasri dan Novita Sari, sembari menemani sang Menteri berdialog.

“Mau dirujuk berobat ke rumah sakit?” tanya Wihaji kepada tim pendamping keluarga yang mendampingi keluarga berisiko stunting tersebut.

TPK menyebutkan, jika sebetulnya Hasri sudah pernah dirujuk, hanya saja sang istri Novita Sari tidak bisa terus menerus merawat di rumah sakit, lantaran tidak ada biaya untuk kebutuhan sehari-hari anaknya.

“Ya sudah, nanti istrinya fokus merawat di rumah sakit, biaya hidup saya bantu Rp5 juta untuk tiga bulan, anaknya tolong titipkan ke keluarga apakah ada yang bisa menjaga, agar bapaknya ini bisa fokus dirawat untuk kesembuhannya,” ujar Wihaji.

Novita Sari menangis tersedu, ia terharu dengan banyaknya bantuan yang diterimanya malam itu. Selain dikunjungi Mendukbangga, ia juga mendapatkan bantuan rumah, serta bantuan nutrisi dan sembako dari Gubernur Babel, BKKBn Babel dan BAZNAS Babel.

“Terima kasih banyak pak,” ujarnya lirik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *