Rumah Baru, Harapan Baru bagi Keluarga Berisiko Stunting

* Lima KRS di Babel Terima Bantuan RLH

Menteri Wihaji dan istri saat berkunjung ke kediaman Hasri dan Novita Sari di Desa Tanjung Gunung. Pembina DWP Kemendukbangga/BKKBN tampak mengendong bayi Novita Sari. Sementara Hasri, hanya bisa terbaring di atas tempat tidur.
banner 120x600

Selain dua keluarga di Tanjung Gunung, Menteri Wihaji juga meninjau tiga KRS di Kecamatan Pangkalbalam, salah satunya Muhammad Liyo (58) nelayan Pangkal Arang yang mengalami stroke 10 bulan terakhir, ia memiliki dua anak usia kelas 4 SD dan 3 tahun.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN RI, Wihaji, saat meninjau langsung rumah Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang, Kamis (6/8/2026). Pada kesempatan itu, KRS juga menerima bantuan rumah layak huni dan bantuan lainnya. (Foto: ti1)

 

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia terpaksa menjual kapal yang ia gunakan mencari ikan, dan uang tersebut habis untuk biaya berobat dan hidup sehari-hari.
Untuk membantu kebutuhan, istrinya pun sambilan bekerja apa adanya yang penting mendapatkan uang untuk kebutuhan harian.

Menteri Wihaji menegaskan untuk menekan stunting, tidak bisa hanya diberikan makanan bergizi saja tetapi juga intervensi semua stakeholder yang berkolaborasi.

“Target kami adalah memastikan keluarga berisiko stunting benar-benar mendapatkan pendampingan. Ini perintah langsung Bapak Presiden agar keluarga yang membutuhkan segera kita bantu,” kata Wihaji kepada wartawan.
Persoalan yang menjadi penyebab utama, mulai dari kesehatan, kondisi ekonomi, hingga kelayakan tempat tinggal juga harus dibenahi.

“Keluarga ini memang masuk kategori keluarga risiko stunting. Ada bayi usia tujuh bulan yang membutuhkan perhatian pemerintah. Karena itu kami datang langsung melakukan pengecekan,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi langkah yang dilakukan pemerintah daerah, merespon dan bertindak membantu menyelesaikan persoalan ini.

“Gubernur tadi langsung merespons dan akan merujuk bapaknya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan cepat. Negara harus hadir,” tegasnya.

Rumah keluarga Liyo dan Lilindo di Kecamatan Pangkalbalam, Pangkalpinang.

Wihaji juga memberikan apresiasi kepada BAZNAS dan PT Timah Tbk, yang membantu membangun rumah layak huni untuk lima KRS penerima bantuan.

Di Kota Pangkalpinang, PT Timah Tbk turut memperkuat kolaborasi penanganan stunting melalui program pembangunan tiga unit rumah layak huni di Kecamatan Pangkalbalam.

Ketua BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Zulhadi, mengatakan bantuan rumah layak huni merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung percepatan penurunan stunting di Bangka Belitung.

Menurutnya, dana pembangunan rumah berasal dari zakat yang dihimpun BAZNAS dari para muzaki dan disalurkan kepada mustahik yang memenuhi syarat sebagai penerima manfaat.

“Zakat bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan keluarga berisiko stunting memiliki rumah yang layak, sehat, dan aman sebagai tempat tumbuh kembang anak,” tutup Zulhadi. (ti1)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *